Mengambil nuansa Perang Dunia Kedua, Inglourious Basterd memberi  atmospire kekejaman yang dikemas secara dramatis dan personal. Cinematograpik film ini luar biasa. Perpaduan alur cerita yang tertata apik berjalin berkelindan, ironi dan tragedi dibalut alunan musik dan suara yang sempurna.   Kita akan dibawa nuansa imajiner yang hidup dan sensasional. Hal ini bahkan dimulai pada scene pertama ketika perwira SS Nazi Kolonel Hans Landa mendatangi Perrier La Padite, seorang petani Prancis dengan tiga putrinya yang cantik tapi hidup tertekan ditengah pendudukan Nazi Jerman di Prancis.

Peran sebagai Kolonel Hans Landa yang tenang tapi mematikan ini akan membawa Christoph Waltz sebagai actor yang memenangkan penghargaan pada Academy of Motion Picture Arts and Sciences tahun 2009.

 

Dalam pembukaan film yang berdurasi lebih dari  20 menit ini, kita dikenalkan pada tokoh antagonis bertemperamen sopan dan tenang namun kejam mematikan. Ia bertanya adakah keluarga Yahudi yang bersembuyi disini? Sang Kolonel ini memberikan dua pilihan, La Padite menunjukan dimana mereka bersembunyi dan mereka akan dibiarkan hidup tenang atau ia bisa diam lalu membiarkan Nazi mencari dan menggeledah lalu seluruh anggota keluarga akan merasakan hukuman sebagai akibatnya. Kengerian akan terasa selama adegan pembukaan ini dan diakhiri dengan puncak kepiluan Shosana yang berlari menjauh dari tempat dimana kedua orang tuanya yang mati dibunuh. Kolonel Landa berkata mengenaskan, sampai jumpa Shosana!

Shosana yang dimainkan akris Mélanie Laurent akan menempati posisi penting dalam alur cerita film yang beredar di tahun 2009 ini. Namun tokoh protagonist bisa jadi disandingkan pada Brad Pitt yang memerankan Luitenant Aldo Reine, seorang tentara sekutu berkebangsaan Yahudi Amerika yang akan diterjunkan sebelum D-Day untuk satu misi dan satu-satunya misi yaitu menebar rasa takut kepada tentara Nazi. Semua anggota pasukan yang dipimpinnya berhutang secara personal 100 kulit kepala tentara Nazi atau mati dalam dalam upaya mengumpulkannya. Itulah monolog Brad Pitt yang bergaya dan berkelas.

Tindakan pasukan Aldo Raine yang dikenal sebagai Beruang Yahudi, The Bear Jew membuat marah sang Fuhler yang lalu menghubungkan pasukan ini dalam mitologi Golem yang termasyur. Lagi-lagi monolog luarbiasa dari Martin Wuttke, pemeran Aldolf Hitler, membawa kita pada nuansa kemarahan yang menggelikan. Ia mengutuk Beruang Yahudi, yang membunuh tentaranya dengan tongkat bisbol. Ketika ia mengeluarkan maklumat yang melarang pasukan Nazi di Prancis untuk mengatakan The Bear Jew, sang sekertaris bertanya apakah prajurit Butz akan tetap ditemui?

Siapa prajurit Butz itu?

Scene keempat mengambarkan apa yang dilakukan pasukan Aldo Reine ketika berhasil menawan pasukan Nazi. Reine mengenalkan beberapa anggota pasukan, khususnya Hugo Stiglitz, orang Jerman yang kesohor karena telah membunuh 13 perwira Gestapo. Lalu tawanan pertama, Sersan Werner Rachtman ditawari dua pilihan, menunjukan lokasi sniper Jerman dan ia bisa kembali makan sandwich atau dihabisi karena Reine tidak mengumpulkan tawanan. Werner menolak dan Donni beraksi. Satu tentara Nazi lain mati ditembak ketika berusaha kabur dan satu yang tersisa prajuri Butz yang bersedia bekerja sama dengan cindera mata di dahi! Cidera mata ini sangat mengelikan. Ide brilian dalam film cadas kekejaman perang dengan humor khas Tarantino!

Lalu alur film beralih di menit 38 pada Shosana yang kini telah mewarisi gedung bioskop di tanah jajahan. Ia bernama Emmanuelle Mimieux sekarang. Imajinasi mengakhiri Perang Dunia Kedua dengan menyertakan industri film sebagai senjata mematikan sungguh ide luar biasa. Konon dibutuhkan 10 tahun untuk mendapatkan ide ini sebagai klimaks film ini.

 

Menuju resolusi cerita, Shosana atau Mimieux ditemui seorang prajurit Nazi Jerman yang lalu jatuh cinta kepadanya. Ia membenci laki-laki itu karena alasan yang jelas. Namun ketika bertemu untuk kedua kalinya, Shosana menjadi tahu siapa Fredrick Zoller dan ia semakin membenci laki-laki itu.

Tapi Zoller tidak menyerah. Ia membawa Shosana untuk hadir pada makan malam mewah agar melalui lisan Joseph Goebells sendiri akan mengetahui bahwa bioskop miliknya akan menjadi pemutaran film dimana petinggi Nazi Jerman akan berkumpul dalam satu ruangan. Shosana duduk membeku dan semakin tertekan ketika ia harus bertemu dengan monster yang sangat ditakuti, Kolonel Hans Landa. Dalam kepiluan dan rasa takut, ia harus menjawab pertanyaan petinggi SS yang sudah tak asing lagi di jajaran petinggi Nazi Jerman. Kesalahan akan membawa kematian.

Setelah survey kelayakan bioskop yang langsung dilakukan Goebbel sendiri, Shosana menyampaikan suatu rencana kepada kekasihnya, Marcel, bahwa ia akan membakar bioskop itu dengan amunisi 350 film nitrate koleksi nyonya Mimiuex. Ia bahkan tidak membutuhkan bahan peledak dan ia akan membakar dengan satu tambahan.

Ketika isu penayangan film Nation’s Pride bergulir, justru militer Inggris yang proaktif mengirimkan Luitenant Archie Hicox untuk meledakkan sekeranjang telur busuk sebagaimana gagasan agen ganda sekaligus aktris terkenal Jerman, Bridget von Hammersmark.

Hicox cakap dalam industri perfilman tapi sebagai petugas militer, ia ceroboh dan incompetent.  Ketika pertemuan dilaksanakan dibasement, Luitenant Reine menyatakan kesulitannya untuk melakukan pertempuran. Hicox menjelaskan bahwa tempat itu dipilih karena hanya akan sedikit Nazi ditempat itu dan Hicox keliru. Setidaknya ada empat pemuda berseragam dan satu SS!

Aksen aneh Hicox membawa SS keluar dan meskipun Bridget mampu memanipulasi suasana, Hicox melakukan kesalahan fatal yang lain ketika menunjukan angka 3! Lalu Bum!

Pasca baku tembak yang hanya menyisakan satu orang tetap hidup, Luitenant Reine menekan bekas luka tembak di kaki von Memmersmark untuk mendapatkan keterangan jujur akris cantik ini. Dan karena Luitenant Hicox telah tewas maka Aldo Reine mengantikan posisi Hicox meski ia, Donny dan Omar tidak fasih bahasa Italia. The Bear Jew kini menyandang misi menghentikan perang dunia.

Kolonel Hans Landa menemukan dua bukti yang tertinggal dari insiden mematikan di café Nadine dan ketika sepatu itu cocok dengan von Mammersmark, Hans Landa mengakhiri hidup akris itu dengan cara mencekiknya. Ia lalu melakukan menangkapan Aldo Reine dan menyita dinamit dari kaki Luitenant Reine dan menyimpannya di balkon untuk meledakkan sang Fuhrer.

Sampai titik ini, alur cerita berjalan sangat logis namun dihadapkan pada titik dimana alur cerita menjadi anti klimak, suatu platfom logis namun akan mengecewakan dalam perspektif penonton yang pada umumnya mengharapkan keberhasilan, bukan kegagalan. Oleh sebab itu, dapat difahami jika solusi atas permasalahan itu, pembuat film menarasikan satu perubahan sikap Kolonel Hans Landa yang semula bersikap antagonis menjadi sosok oportunis dimana ia mengajukan proposal perdamaian untuk mengakhiri Perang Dunia dengan konsesi atas nama pribadi. Perubahan sikap tokoh antagonis ini akan memudahkan alur film menuju resololusi konflik dimana penonton mendapatkan akhir cerita yang diharapkan.