Kill Bill vol 1 merupakan karya keempat Quentin Tarantino yang di tayangkan pada tahun 2003,. Dendam dan kekerasan merupakan elemen utama karya sinema ini dan karena Kill Bill vol 1 bukan film bergenre misteri, kita akan merasakan sensasi luar biasa film ini melalui tokoh protagonis Beatrix Kiddo yang memilih berhenti dari kelompok pembunuh bayaran pimpinan Bill.

Konflik yang menjadi kekuatan alur cerita film Kill Bill vol 1 dimulai pertama kali melalui uraian kata David Carradin yang memutuskan mengakhiri hidup wanita yang mengandung anaknya sendiri. Tidak ada yang sadistik dari tindakanku, itulah pengakuannya.

Lalu melalui alunan lagu Nancy Sinatra yang terasa begitu kuat, kita akan merasakan tragedi memilukan Beatrix Kiddo yang koma karena tindakan kekasihnya sendiri, Bill. Tampaknya untuk mendapatkan kesan artististik dan emosional, alur film ini tidak disusun dalam kronologis pertistiwa logis namun pembalasan Beatrix Kiddo pertama kali disajikan pada tokoh kedua yang akan ia habisi, Vernita Green yang kini telah menjadi istri seorang dokter dengan satu anak perempuan.

Setelah satu tekanan jari pada bel rumah Vernita Green, satu pukulan telak Beatrix Kiddo memulai pergumulan hidup mati dua sahabat lama dan terjeda satu kali ketika sang anak pulang kerumah sehabis sekolah. Mereka lalu berbincang tentang kondisi mereka dimana Copperhead ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki apa yang pernah terjadi. Tapi Kiddo tidak akan membuka pintu maaf. Suatu kesepakatan dibuat untuk suatu penyelesaian ditengah malam  namun Vernita tewas setelah meluncurkan satu peluru. Sang anak menyaksikan ibunya mati terbunuh dan jika ia akan menuntut balas, Beatrix Kiddo akan menunggunya datang.

Melalui kilas balik cerita di chapter kedua, digambarkan bagaimana bekas pembantaian itu dulu pernah di komentari sang Sherif yang menyimpulkan the Bride belumlah tewas. Atas bantuan sang sherif yang sempat diludahi wajahnya, sang protagonis berbaring koma di rumah sakit. Elle Driver, wanita satu mata pembunuh kesayangan Bill lalu mendatangi Beatrix Kiddo yang hendak mengakhiri mantan teman sejawat untuk kedua kalinya. Bill menelepon dan mengatakan mereka tidak membunuh dengan cara seperti itu. Elle mencak-mencak marah tapi ia tidak mungkin membangkang perintah. Bill adalah sang boss.

Lalu bagaimana sang protagonis bangun sadarkan diri, keluar dari rumah sakit dan pergi untuk menuntut balas? Uraian tentang hal ini begitu liar namun diungkap dalam narasi dan aksi protagonis menuntut balas, bukan ketika ia menjadi korban. Ia menggigit lidah laki-laki yang akan menyakitinya setelah membayar ongkos 75 dollar. Lalu Buck, sang mucikari, tewas setelah kepalanya di bentur daun pintu berkali-kali. Beatrix bertanya tanpa mengharapkan jawaban “dimana Bill? dimana Bill?”.  

Pussy Wagon, mobil mengkilap kebanggaan Buck, menjadi alat pertama Beatrix Kiddo mewujudkan rencana menuntut balas. Target pertamanya adalah paling mudah ditemukan tapi paling sulit untuk dilakukan, O-Ren Ishii yang menjadi boss Yakuza setelah  satu tahun peristiwa El Paso, Texas. Kiddo sangat mengenal O-Ren Ishii, pertama kali membunuh diusia sebelas tahun. Gambaran kepiluan masa kecil O-Ren Ishii begitu memukau, disajikan artistik dan masuk kedalam sisi kelam masa kecil yang memilukan.

Namun the Bride membutuhkan sebilah pedang sebelum menemui Cottonmouth dan hanya pedang buatan Hattori Hanzo yang mampu membantunya. Ia membeli satu tiket sekali jalan ke Okinawa sebelum menuju Tokyo. Huge. Begitulah jawaban the Bride ketika Hanzo berkata “tentulah tikus besar sehingga kau membutuhkan pedang Hattori Hanzo”.

Bagian akhir Kill Bill vol. 1. tidak dibuat pendek atau singkat. Dapat dikatakan bahwa film ini benar-benar memuaskan dahaga penikmat film laga. The Bride, sang protagonis berparas cantik tampil begitu memukau dengan ketrampilan pedang di babak akhir film penuh sensasi dan imajinasi. Tanpa bantuan seorangpun, ia menantang pergumulan hidup dan mati di hadapan sekumpulan pendekar yang dikenal trampil dalam penggunaan katana, pedang khas Jepang.

Kita bisa melihat, dan tentu disertai alunan musik pengiring momentum film yang sangat jarang dapat kita nikmati, suatu bentuk kekerasan yang tidak telanjang namun menampakan siluet aksi panoramik besutan Tarantino. Gambaran sempurna ini digambarkan dalam durasi cukup panjang sejak pedang Beatrix Kiddo menebas tangan Sofie Fatale, wanita cantik sang sekretaris The Deadly Viper Assassination Squad pimpinan Bill, lalu pertarungan epik pun dimulai.

Lebih dari 23 menit waktu yang diberikan sang sutradara film sehingga aksi laga diakhir film ini layak untuk ditonton ulang tanpa rasa bosan. Meskipun menampilkan aksi kekerasan penuh darah berhamburan, resolusi akhir cerita volume pertama film ini tidaklah sadistik. Melalui sudut pengambilan gambar dan penentuan cahaya, kita akan mendapatkan aksi laga yang menghujam dalam imajinasi, bukan sekedar benturan fisik dan darah yang memancar.  Bahkan satu humor apik disajikan ketika pengikut klan O-Ren Ishii dipukul pantatnya dan diperintahkan kembali kepada ibunya karena masih dibawah umur.

Lalu pertempuran akhir antara the Bride dan O-Ren Ishii disajikan melalui duel head to head, berlangsung senyap dan mematikan. Satu tebasan dipunggung membuat keraguan bagi akhir cerita yang sempurna namun kebenarannya ada di tebasan bagian kepala O-Ren Ishii. Satu lawan the Bride telah mendapat balasan.

Tokoh protagonis yang tampil tidak hanya sebagai karakter yang mengundang simpatik namun memiiki keakhlian kanoragan tingkat tinggi tentu memberi harapan penyelesaiaan konflik secara sempurna. Klimak cerita yang diharapkan tentu adalah sang protagonis mampu mencapai kepuasan batin, suatu platfom cerita yang sangat umum dimana protagonis berhasil dan bahagia. Sang pembuat film telah berhasil membangun rasa simpatik penonton. Adalah menjadi anti klimak yang mengecewakan ketika tokoh utama itu mengalami kegagalan. Namun pertanyaan besar akan berlangsung salama satu tahun karena Kill Bill vol 2 baru akan dapat dinikmati di tahun 2004. Pertanyaan itu setidaknya muncul karena masih ada 3 tokoh antagonis yang masuk dalam daftar, Elle, Budd dan tentu saja Bill, sang antagonis utama. Akankah Beatrix Kiddo berhasil? Bagaimana caranya? Akankah ada pertarungan epik di Kill Bill volume 2?