Perbudakan yang menjadi salah satu faktor terjadinya perang sipil antara masyarakat utara melawan masyarakat selatan di Amerila pada akhir abad 19, menjadi latar utama film Django Unchained yang dirilis tahun 2012. Diperankan oleh Jamie Foxx, Django menjalani nasib sebagai budak yang tidak hanya tanpa alas kaki namun juga dirantai besi ketika berjalan melintasi bebatuan dan hutan bersama empat budak lain yang diperjualbelikan di Misisipi Amerika Serikat.

Soundtrack buatan Ennio Morricone yang mengantarkan film ini pernah diperdengarkan difilm Djanggo yang dirilis tahun 1966. Akan tetapi di film Django ini, kita akan dimanjakan dengan begitu banyak musik yang melekat kuat dengan momentum-momentum dalam film ini sehingga terlalu berharga jika tidak sempat dinikmati.

Disamping musik, sajian Django Unchained adalah momentum-momentum cerita yang terjalin rapi melalui karakter dan dialog yang mudah difahami hingga akhir cerita. Diawali oleh Cristoph Waltz yang berperan sebagai Dr. King Schultz, yang menghampiri sekelompok budak berkulit hitam untuk suatu negosiasi yang gagal namun dua tembakan akan membebaskan Django dari ikatan. Ia berdalih bahwa pemilik budak itu telah menodongkan senapan kepadanya dan ada 5 saksi yang akan membenarkan perbuatannya. Alunan musik menghantarkan perpindahan menuju scene kedua untuk aksi Dr. King sebagai pemburu bayaran.

Profesi itu tertutup rapi melalui simbol gigi diatas kereta kuda. Satu kenyataan diungkap ketika orang-orang keheranan melihat laki-laki kulit hitam bebas duduk dipelana. Rasisme ditampakkan. Pemilik bar hampir-hampir terjatuh dari meja ketika dr. Schultz mengucapkan salam untuk kedatangannya. Apakah kamu gila? King Schultz tidak bergeming. Ia bahkan meminta sherif untuk datang sehingga ia sempat minum dan menjelaskan kepada Django, apa itu pemburu hadiah, the bounty hunter, profesi sebenarnya dari Schultz.   Sang sherif itu datang dan dihadapan banyak orang, ia membunuhnya. Pemilik bar diperintahkan untuk memanggil Marshal yang berhutang 200 dolar setelah dr. Schultz  menembak Willard Peck, nama sebenarnya dari sang sherif.

Dr. King Schultz menjadikan Django sebagai vallet, asisten pribadinya. Dengan tampilan busana karya Sharen Davis, Django menemani Dr. King Schultz menuju lahan pertanian milik Big Daddy, tokoh yang di perankan Don Johnson, pemeran protagonis pada film Harley Davidson and Marlboro Man yang sangat populer. Dialog menarik antara Dr. King dan Big Daddy terjadi hingga Django dapat menemukan Brittle bersaudara, mantan mandor pertanian yang sempat pencabuk istrinya setelah mereka tertangkap ketika melarikan diri.

Django menembak Big John dan Little Raj lalu Dr. King mengambil bagian dengan menembak Elis Brittle

Big Daddy tentu marah namun setelah memeriksa dukumen pendukung klaim Brittle berssaudara adalah most wanted criminal, pemilik budak itu terpaksa melepas mereka pergi. Setidaknya untuk sementara karena ia membawa pasukan bertopeng sebagai balasannya.

Ada perdebatan tentang kantong penutup kepala sebelum mereka melaksanakan raid, penyergapan. Kantong itu dibuat begitu buruknya hingga mereka menjadi tidak dapat melihat. Apakah penyergapan kali ini sebaiknya tidak menggunakan topeng? Ketika mereka telah dekat kereta, dr King Schultz menembak dinamit yang tersimpan di simbol gigi, dan bum, mereka ketakutan. Djanggo menembak Big Daddy, bakat alami seorang yang trampil dalam menggunakan pistol dan senapan.

Ketika misi mendapatkan upah setelah menembak mati Brittle bersaudara tuntas tercapai, hubungan dr. King dengan Django bisa saja berakhir dan mereka berpisah. Tapi sesungguhnya film ini adalah tentang Django, seorang budak yang beruntung dibebaskan, menjadi bouting hunter lalu mendapatkan bantuan seorang teman baru yang bersimpati atas harapan bisa bertemu dengan Broomhilda, sang istri yang dibesarkan keluarga Jerman di tanah harapan.  Pengembangan alur cerita terjadi dengan apik sehinga film ini menjadi aksi Django untuk mengejar mimpinya.

King Schultz, sang penolong, memiliki latar belakang kebangsaan Jerman, pernah bercerita tentang tokoh dalam cerita rakyat dimana Siegfreid  membebaskan Broomhilda. Dongeng itu kemudian menjadi pintu masuk pengembangan alur cerita film ini dimana dr King Schultz yang pada mulanya berkepentingan menemukan wost wanted kriminal, berubah menjadi penolong lain dimana ia membantu Django, mantan budak yang ia bebaskan, sepenuhnya akan membantu, menemukan dan membebaskan Hilda, istri sang protagonis dari derita perbudakan. Satu promosi heriosme dari sang sutradara Quentin Tarantino.

Satu scene lalu dibuat untuk penggalan-penggalan pasangan bounty hunter dengan iringan musik yang sangat padu dan bermakna.

Sewaktu musim dingin berakhir dan ketika waktu itu telah tiba, satu misi pembebasan dimulai dengan pertanyaan, jalan apa ang akan ditempuh? Melalui diskusi singkat muncullah Mandigo. Suatu fenomena kekejian di era perbudakan. Kritikus film mempertanyakan akurasi historis pertarungan antar budak sampai mati ini. Apakah benar kekejaman ini menjadi bagian sejarah Amerika?

Bagaimanapun mandigo menjadi pintu masuk dimana Django akan bertemu dengan istri yang didambakannya, momentum klimak yang harus memiliki landasan logis dimana protagonis akan berhasil dan berbahagia.  Ada bebeapa scene sebelum cerita ini memasuki klimak dan resolusi konflik cerita dan musik menguatkan kesan imajinatif yang hanya akan dapat dinikmati ketika seluruh alur film ini benar-benar diresapi.

Selain musik, kita akan bisa menemukan keunggulan dialog yang berkembang dalam seluruh alur film ini. Dialog merupakan komponen penting untuk menghantarkan dan menpercantik alur cerita serta pengembangan karakter di seluruh peristiwa dan aksi. Meskipun protagonis utama adalah Djanggo, berdasarkan statistik aksi dan dialog,  dalam film ini akan tampak bahwa dr. King Schultz lebih banyak mendominasi. Sangat bisa difahami sebab posisi protagonis sebagai budak yang dibebaskan belum memungkinkan mengambil inisiatif aksi di awal cerita sehingga menjadi keniscayaan ia berada pada posisi mengikuti tokoh lain. Penulis cerita memiliki ide cemerlang untuk keluar dari jebakan alur cerita dan memindahkan basis cerita film ini kepada tokoh utama yaitu Django, tanpa kemudian memancing kritik atas alur cerita yang tidak logis atau tidak masuk akal. Momentum perpindahan peran ini dilakukan sangat apik melalui dialog dimana dr King Schultz yang memiliki empati atas nasib orang lain dan menjadi tahu bahwa Django memiliki seorang istri yang dibesarkan keluarga berkebangsaan Jerman, kebangsaan yang sama seperti dirinya. Dalam dialog di menit 50 dr King menawarkan kesepakatan dan pada menit 58 Django memasuki babak utama menuju klimak film ini.

Basis cerita Django Unchained adalah seek and find, dimana karaker utama memiliki motif pribadi untuk menemukan sesuatu yang berharga untuk dirinya, yaitu sang istri. Dalam menjalankan motif pribadi ini, alur film dibalut situasi konflik perbudakan dimana protagonis ditempatkan sebagai seorang budak dan sang istri yang diyakini masih menjalani nasib mengenaskan sebagai budak perempuan. Perspektif ini begitu kuat melekat dalam film yang akan menjadi pembenaran aksi protagonis dikemudian hari dalam film dengan platform spaggeti westrern ini. Tanpa landasan moral yang signifikan, aksi kekerasan yang menjadi elemen kejutan akan meninggalkan kontrofersi dan kegagalan.

Babak utama dimulai ketika dr Schultz dan Django menemui Leonardo de Capriori yang berperan sebagai Calvin J. Candie, pemilik perkebunan kapas Candy Land yang menjadi pemilik banyak  budak, termasuk Broomhilda. Mereka menemui Mr Candie yang tengah menyaksikan Mandigo dan Django hadir sebagai Charly One Eyes, ahli yang disewa untuk menilai kemampuan budak kulit hitam dalam Mandigo.  Kekejaman Mandigo diperlihatkan dan sepanjang pergumulan itu, sang protagonis tidak berselera menyaksikannya.

Dr. King Schultz  memaksakan diri untuk menyukai Mandigo tapi Django berdiri didepan bar untuk membelakangi pergumulan budak sampai mati itu. Ketika Fred menyelesaikan Mandigo dengan palu, Mr Candie tampak sangat menyukainya dan memberi budak itu sebotol minuman lalu negosiasi jual beli budakpun dimulai. Mr Candie bertanya mengapa ia harus menjual budak yang tidak ia dijual? Tawaran sebesar 12.000 dollar membuat apa yang sebelumnya memperhatikan menjadi menarik perhatian. Mereka sepakat untuk bersama-sama menuju Candie Land.

Iringan pemilik budak dan pembeli budak sempat terhenti dua kali. Namun perhentian kedua membuat Dr. King Schulz mengalami shock ketika kuasa pemilik budak benar-benar mampu melakukan manusia yang menjadi budaknya untuk mati di cabik-cabik anjing. D’Artagnan, salah satu budak melarikan diri karena tidak mampu menjadi petarung meski sudah 3 kali ia memenangkan Mandigo. Dr King akan membeli budak itu tapi Django membatalkannya.

Rombongan sampai di Candie Land dimana Samuel L. Jackson berperan sebagai mandor yang marah ketika melihat laki-laki kulit hitam duduk dipelana kuda.  Ia menyoalkan mengapa itu bisa terjadi dan ketika Calvin memerintahkan bahwa kedua tamu itu menginap di rumah besar, mandor itu sangat kecewa dan marah. Ia semakin tidak mengerti ketika Broomlida harus dikeluarkan dari ruang panas setelah mencoba melarikan diri. Ia diperintahkan menemui dr. King Schulz dan jatuh pingsan ketika melihat Django berdiri dibalik pintu. Setelah itu alunan lagu Ancora Rui mengalun ketika para pelayan mempersiapkan makan malam.

Namun adegan makan malam tidak dapat dijadikan pertemuan romantis antara Django dan Hildi, nama lain dari Broomhilda. Momen tersebut justru mengikuti jalur logis menuju klimak cerita yang dimulai dari laporan sang mandor budak untuk menimbukan kemarahan sang tuan tanah. Ia menjelaskan bahwa mereka akan ditipu karena Django dan Hildi saling mengenal. Penjelasan tentang bagaimana mandor kulit hitam bisa membenci kaumnya sendiri diungkap secara dramatis dengan penjelasan Calvin J. Candie tentang struktur otak kaum kulit hitam tentang penundukan yang tentu saja menimbulkan polemik dikemudian hari dari para kritikus film ini. Namun demikian dari unsur alur cerita, pemaparan mr Candie ini diperlukan agar transaksi jual beli budak untuk Mandigo bergeser menjadi jual beli budak perempuan seharga 12.000 dollar itu dapat diterima secara logis.

Dengan transaksi 12.000 dollar, tensi dalam film Django melandai sebelum memuncak. Dokumen jual beli budak dibuat dengan bantuan Mr Moguy. Mr. Candie tampak bahagia tapi dr King Schultz tampaknya mengalami goncangan jiwa khususnya karena peristiwa D’Artagnan dicabik-cabik anjing karena melarikan diri. Ia bertanya kepada Mr. Candie, apakah Alexandre Dumas akan setuju dengan apa yang dilakukan Mr Candie terhadap D’Artagnan. Dr King tmenyatakan bahwa Dumas tidak akan setuju karena ia adalah penulis berkulit hitam.

Drama akhir film Django dapat saja diselesaikan dengan transaksi jual beli budak secara damai. Mr Candie menerima pembayaran dan Hildi pergi berlenggang bebas. Jika demikian akhir cerita, film ini menjadi anti klimak yang akan sungguh mengecewakan. Berlandaskan goncangan peristiwa D’Artagnan dan paksaan Mr Candie untuk berjabat tangan, dr. King Schultz mengunakan pistol yang sama ketika ia membunuh Willard Peck dan Mr. Candie pun tewas. Butch, pengawal Mr Candie menembak dr King dan Django membunuh Mr Butch lalu blackout, tembak menembakpun terjadi dalam grafic film yang mengagumkan.

Adegan tembak-menembak itu berakhir ketika Django lebih memilih istrinya yang telah tertawan. Iapun berkorban dan terbangun dengan kepala dibawah kaki diatas. Salah satu pekerja Mr Candie hendak mengkebirinya namun mandor budak itu mengatakan bahwa Lara Lee Candie Fitzwilly berubah pikiran. Ia akan dijual keperusahaan tambang agar menderita setiap hari.

Ketika perjalanan menuju perusahaan tambang itu berjalan, Django berhasil membunjuk Quetin Tarantino yang berperan sebagai pekerja perusahaan. Ia menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang pemburu hadiah, bounting hunter dan ada 11.500 dolar di Candi Land. Smitty Bacall dan geng Bacall. Dua pekerja itu mengkonfirmasi apakah Django datang di atas kuda. Budak-budak itu menjawab ya lalu merekapun percaya. Lalu mereka memberinya pistol dan Django melepaskan 3 peluru, satu diantaranya mengenai dinamit dan Quetinpun meledak.

Bagian akhir film ini berjalan cukup cepat. Django menembak semua pekerja Mr Candie, termasuk Stoneshiper pemilik anjing yang melepaskan binatang itu untuk membunuh D’Artagnan. Lalu ia membebaskan Hilda dan menunggu dilantai dua dengan pakaian bekas Mr Candie. Ia menembak dua pekerja di kaki yang membuat mereka menjerit kesakitan. Dua budak ia bebaskan setelah ia menembak sang janda Lara Lee yang menjadi pewaris Candy Land. Sebelum rumah besar itu diledakan dengan dinamit, Django menembak dua kaki mandor budak berkulit hitam. Django  berlenggang keluar lalu filmpun berakhir.